Orang Hebat yang Merusak Tatanan – CEO words

Sekitar beberapa pekan yang lalu, sahabat Saya menelpon di tengah malam. Karyawannya yang terbilang hebat memutuskan untuk resign. Hal ini tidak tiba-tiba, kawan Saya sudah lama mengeluhkan tentang sikapnya yang tidak mau ikut aturan, namun hebat di sisi yang lain.

Sebelum Saya membeberkan jawaban Saya, alangkah baiknya Saya menjelaskan duduk persoalannya secara lengkap.

Karyawan yang dimaksud oleh kawan Saya ini termasuk orang lama di perusahaannya. Dia memiliki keahlian dalam membangun arus pengunjung ke restoran miliknya. Ramainya restoran tidak lepas dari kekuatannya dalam melobi banyak tamu rombongan.

Namun ada yang kurang dari sosok ini. Dirinya merasa paling berjasa, dan relatif selalu menuntut ini itu ke organisasi. Ancaman pengunduran diri selalu dilontarkan agar benefit naik. Biasanya, owner memilih untuk terus mempertahankan sang karyawan “hebat”.

Seiring besarnya restoran, SDM pun bertambah, sang karyawan hebat ini kemudian mulai terlihat tidak pandai dalam memimpin orang. Beberapa training kepemimpinan sudah diselenggarakan, namun dia memutuskan untuk tidak hadir. Dia enggan mendidik tim. Kehebatannya benar-benar di keterampilan individu.

Akhirnya manajemen memutuskan untuk merekrut mantan Manajer dari sebuah restoran besar kenamaan. Sang karyawan hebat pun merasa dinomor duakan. Sikapnya makin berbenturan dengan organisasi. Datang terlambat, meeting tidak hadir, ijin se enaknya. Namun demikian, dia tahu bahwa kekuatannya ada pada menghadirkan pengunjung, maka dia tetap bekerja serius melobi rombongan-rombongan wisatawan di akhir pekan. Kawan Saya pun dilema.

“Rend, orangnya hebat, memang OK banget ngedatangin orang, tapi aku ini banyak gak didengar, kordinasi sama yang lain gak bisa, ngerusak sistem, yang lain jadi ketularan suka seenaknya”

Saya pun memberikan pendapat, dengan memaparkan beberapa poin,

1. Jalannya organisasi harus bergantung pada sistem, bukan pada individu.

Saya bilang ke teman Saya, mau sampai kapan disandera sama karyawan. Sekarang dia minta pengunduran diri, dan ini sudah kesekian kalinya. Permintaan pengunduran diri selalu berbuntut pada minta naik gaji dan fasilitas. Dan sekarang dia mau coba lagi.

Lalu kemudian, bagaimana jika suatu saat karyawan Anda meninggal dunia, apakah bisnis ini mau di stop? Menurut Saya, adakalanya memang SDM itu harus pergi meninggalkan organisasi. Natural saja.

2. Organisasi harus lebih utama dari individu.

Dalam organisasi itu, gak boleh ada orang hebat, lalu ang lain penggembira. Didalam organisasi itu, yang ada adalah tim yang hebat. Tim yang saling mendukung. Tidak boleh ada sosok yang merasa lebih berjasa dari yang lainnya.

Jika ada orang yang merasa lebih berjasa dan hebat, itu penyakit. Biasanya dia bertindak seenaknya. Sesuai seleranya. Padahal organisasi punya aturan dan mekanisme.

Tidak hadir meeting, tidak hadir training, tidak melaksanakan briefing tim, itu semua menghambat laju organisasi. Jika urusannya hanya traffic pengunjung, organisasi dapat melakukan rekrutmen. Organisasi tidak akan berakhir karena kehilangan 1 orang.

3. Pembangkangan itu menular.

Jika ada orang hebat yang membangkang, terkadang kita masih punya toleransi. Namun yang mengerikan itu, jika yang membangkang adalah mereka yang memang tidak perform. Ini gawat.

Orang hebat yang berlaku se enaknya akan ditiru oleh teman-teman yang lainnya. “Itu dia telat gak papa!”, akhirnya telat semua. Organisasi tidak mengenal istilah previlage : “dia boleh melanggar aturan, karena dia orang hebat”.

Maka, dari 3 paparan diatas, Saya rekomendasikan ke sahabat Saya untuk menerima pengunduran diri karyawan hebatnya. Dan sang karyawan pun tekejut, kok bosnya gak nahan-nahan dia lagi. Hehehehe…

*****

Sudah saatnya UKM itu tegas. Jangan mentang-mentang orang lama, dielus-elus. Jangan mentang-mentang orang lama, terus gak ditegur, gak di upgrade untuk lebih baik. Jangan mentang-mentang ada SDM hebat, terus Anda jadi terdikte. Jangan sampai.

Jika ada orang hebat yang merusak tatanan. Tegur saja baik-baik. Jika masih tidak mau ikut aturan, pecat saja. Keberlanjutan organisasi lebih penting daripada kehebatan individu.

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana

Tentang Hilaludin Wahid

Seorang Blogger yang aktif dalam dunia Digital Marketing. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan magister-nya di FIKOM Universitas Mercu Buana konsentrasi pada Media Industri dan Bisnis.
Tulisan ini dipublikasikan di Entrepreneurship dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *