Menunda Kesenangan

musthofa romdhoni tdaPagi ini saya menikmati sejuknya udara pagi, dengan duduk di balkon rumah, menyaksikan terbitnya matahari ditemani sahut-sahutan kicau burung di pepohonan. Dalam sendiri pikiran saya melayang dan mengingat satu pertanyaan dari penyiar radio dalam acara Bandung Entrepreneur Forum yang di selenggarakan teman-teman Komunitas Tangan Di Atas Bandung beberapa hari lalu.

Yakni pertanyaan, “Apa sih suka dan duka ketika membangun usaha ?”, tentu yang menarik adalah kisah tentang duka nya. Proses ditahun-tahun awal boleh di bilang banyak “duka” yang terasa sekali. Dan kalau boleh dirangkum dalam kalimat singkat adalah “Harus banyak menunda kesenangan.”

Saya masih ingat ketika menjalankan bisnis pemasaran jaringan, sepulang bekerja sebagai karyawan dan harus membuat janji sana sini, untuk presentasi dan demo produk, sering pulang larut malam dengan kendaraan umum. Dan terkadang hanya memperoleh penolakan dan disertai penghinaan. Hari libur selalu diisi presentasi dan demo produk, serta hadir di beragam seminar yang menyita waktu, energi dan uang.

Sebagai anak muda yang sudah punya income dari bekerja, banyak sekali penundaan kesenangan yang saya rasakan kala itu. Liburan akhir pekan, atau sekedar menonton tivi adalah kemewahan yang tidak saya nikmati.

Ketika akan mulai berkeluarga, dan bisnis pemasaran jaringan harus saya nyatakan kandas, maka saya mulai merintis bisnis perdagangan limbah plastik dan ekspedisi pengiriman barang. Bahkan saya masih ingat ketika beberapa bulan sebelum pernikahan. Saya dan calon istri hampir tidak pernah menikmati santai di malam minggu. Karena saya sedang asyik-asyiknya mengumpulkan limbah keranjang plastik di toko-toko buah pinggir jalan, pasar, dan mall-mall di sekitar Bekasi –Karawang.

Kalaupun malam minggu bersama dengan calon istri, kami juga manfaatkan untuk menyambangi beberapa pusat perbelanjaan, tetapi bukan untuk jalan-jalan atau shopping, tetapi untuk memborong keranjang-keranjang bekas di tempat belanja tersebut.

Ketika sudah berkeluarga, penundaan kesenangan masih berlanjut, seperti uang belanja rumah yang ditekan habis, karena dana banyak digunakan untuk modal usaha dan mencicil cukup banyak hutang, bukan hanya untuk modal kerja, tapi juga hutang dari beragam bisnis yang gagal.

Dalam proses itu, saya ingat istri sering bertanya untuk mengajak liburan keluar kota, entah di Puncak, Bandung, Taman Safari dll seperti teman-teman dia. Dan seperti biasa saya berujar “Tenang aja bun, liburan keluar kota seperti Puncak atau Bandung itu biasa banget, ntar aja ya, kalau sudah sukses kita liburan ke Tokyo, London, New York. Pokoknya keliling dunia deh”. Dan istri sayapun mengangguk-angguk meski agak dengan muka masam.

Sewaktu membuka bisnis warung makan, kami belajar membuat resep dengan blusukan di pasar dimalam hari, sepulang kerja. Ketika warung mulai jalanpun, harus belanja keperluan dipasar seringkali sampai tengah malam.

Sayapun ingat ketika teman-teman kuliah sudah membeli rumah idaman, saya masih mengontrak di rumah kecil. Sampai teman dekat saya yang prihatin menyuruh mencari pinjaman yang super ringan dari Jamsostek untuk uang muka membeli rumah. Sayapun menjawab santai, “Tenang saja friend, entar kalau sudah waktunya, saya pasti membeli rumah seperti yang saya mau”. Dan masih banyak kisah seru yang tidak mungkin saya tulis semua.

Waktu itu ditengah himpitan kenyataan usaha yang tak kunjung menghasilkan, saya memang merasakan betapa beratnya menunda kesenangan dan berada dijalur yang berbeda dari orang kebanyakan. Tetapi saya terus berusaha membulatkan tekad, bahwa memang hasilnya belum bisa dilihat sekarang. Sesuai buku dan pengalaman mereka yang telah berhasil. Saya yakin sepuluh tahun setelah proses ini pasti hasilnya akan jauh berbeda dibandingkan mereka yang sudah menikmati kesenangan dari sekarang.

Dari perjuangan dengan menunda banyak kesenangan waktu itu, meski bisnis tidak super fantastis, saat ini saya sangat mensyukuri hasilnya.

Untuk hasil yang luar biasa, sanggupkah kita berjuang dan banyak menunda kesenangan, bisa beberapa tahun, bisa juga hingga sepuluh tahun atau lebih ?. Sebagai anak muda yang minim pengalaman dan memulai dari nol, saya bersedia melakukan proses itu. Bagaimana dengan Anda ?

Saya masih ingat pesan pengusaha sukses yang saya dengar, “Berhasil dalam bisnis itu, kapanpun kejadiannya tetaplah terasa nikmat. Tidak peduli berapapun usia Anda.”

Salam bertumbuh

MUSTOFA ROMDLONI

Presiden TDA 4.0

 

mrcorp.co.id

Tentang Hilaludin Wahid

Seorang Blogger yang aktif dalam dunia Digital Marketing. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan magister-nya di FIKOM Universitas Mercu Buana konsentrasi pada Media Industri dan Bisnis.
Tulisan ini dipublikasikan di Bisnis, Entrepreneurship dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *